Cerpen

Jendela Kamar

Jam masih menunjukan pukul 5 sore tapi sang mentari sudah cukup lama menghilang diselimuti awan gelap yang tampak sangat tebal, suara gemuruh sudah mulai terdengar bersaut-sautan terkadang diiringi oleh kilatan cahaya dari langit yang seperti ingin menyambar siapa saja. Jalanan sudah dipenuhi dengan kendaraan yang berlaju kencang agar tiba dirumah masing-masing sebelum hujan turun,tetapi berbeda dengan Rian laki-laki yang sudah memiliki seorang anak tersebut masih duduk-duduk santai di depan beranda rumahnya sambil menyesap kopi, terlihat tidak terganggu sama sekali dengan gemuruh dan kendaraan yang berlalu lalang di depan rumahnya.
Tidak lama kopi yang Rian sesapi dari tadi habis hujanpun mulai turun perlahan dan lama-kelamaan semakin deras, jalanan yang tadinya dipenuhi kendaraan mulai berkurang, mulai bosan karena tidak ada pemandangan lagi Rian pun masuk ke rumah sambil membawa gelas kosong yang hanya tersisa ampas kopinya.  Ketika Rian sudah berada diambang pintu belakang rumahnya, Siska istri Rian menghampiri dirinya dan mengambil gelas yang dipegang oleh Rian berencana untuk mencuci gelas tersebut, setelah mencucinya Siska menghampiri Rian, “Mas suhu badan Kinan kembali naik, dan badannya mulai menggigil lagi” “Kinan sudah dikasih obat?” tanya Rian Siska pun mengangguk, raut wajah Rian mulai cemas, anaknya yang sudah mulai membaik kesehatannya semenjak kemarin sekarang kembali demam tinggi lagi seperti seminggu yang lalu, ia pun bergegas ke kamar anak perempuan semata wayangnya itu diikuti dengan Siska, ketika ia dikamar Kinan ia langsung memegang dahi Kinan memastikan suhunya dan benar saja suhu badan Kinan kembali panas lagi dan parahnya ia sekarang menggigil lagi,
”Kinan ini papa sayang, ayo makan dulu biar Kinan nggak sakit lagi” mendengar suara Rian Kinan mulai membuka matanya,
“Lidah Kinan pahit pa, Kinan nggak mau makan, besok aja Kinan makannya” ujar Kinan dengan suara paraunya
“Kinan kalau kamu nggak makan nanti kamu lama sehatnya sayang, mama udah buatin kamu bubur” Bujuk Siska
“Tapi ma, Kinan lagi nggak mau makan” mendengar penolakan Kinan Siska menghela nafasnya, Rian mengelus kepala Kinan
“Kinan mau minum teh aja ma” mendengar itu Siska mengangguk dan meyuruh Kinan menuggu sejenak selagi Siska membuat teh, selang beberapa menit Siska kembali dan memberikannya ke Kinan, setelah meminum teh Kinan langsung tertidur lagi.
            Rian dan Siska pun pergi kekamar mereka, “Ka apa kita bawa aja Kinan ke rumah sakit lagi?” kata Rian ketika ia sudah berada di kamar
            “Tapi mas kita sudah membawa Kinan dua keli ke Rumah Sakit dan dokter bilang Kinan hanya demam terus kan?”
            “Tapi Ka kini Kinan udah seminggu demam tinggi, aku khawatir” kata Rian dengan nada cemas
            “Mas jangan berpikiran negatif dulu, besok kita lihat dulu kondisi Kinan baru kita rundingkan lagi nantinya, sekarang kita tidur dulu, kamu kelihatan udah kecapekan” Rian pun hanya mengangguk
****
            Esok paginya keadaan Kinan anak Rian pun masih tak kunjung turun suhu badannya, tak banyak pikir panjang Rian pun membawa Kinan ke Rumah Sakit tapi sepulangnya ia dari sana Rian lagi-lagi tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan , dokter disana hanya berkata jika anaknya Kinan hanyalah mengalami demam biasa. Terhitung dari awal Kinan sakit sekarang sudah 2 minggu suhu badan Kinan panas bahkan ia juga mengigil. Siska mulai panik dengan keadaan anaknya ia sudah sangat takut apa yang akan terjadi nantinya kepada anak semata wayangnya ini, anak perempuan satu-satunya anak yang sangat ia cintai. ‘Tuhan aku mohon kepadamu sembuhkan lah anak semata wayang ku ini ia baru duduk di kelas 1 SMP mengapa engkau tega berbuat hal ini kepadanya’ batin Siska setiap kali ia merasa sedih melihat keadaan Kinan.
Tidak berbeda dengan Rian ia sudah sangat kebingungan dengan keadaan Kinan saat ini, ‘harus kubawa ke mana lagi Tuhan, untuk menyembuhkan putri ku ini’ kata Rian dalam hati, tiba-tiba terlintas ingatan Rian akan masa lalunya dulu, ‘apa mungkin Kinan juga mengalami itu? Ah tapi itu tidak mungkin, pada zaman ini tentu sudah tidak ada lagi hal yang seperti itu, tapi bisa saja hal tersebut terjadi’ “Ahh” ucap Rian mengacak rambutnya kasar ia sudah sangat kebingungan saat ini.
Rian masih sangat ingat dahulu ketika ia baru masuk SMA sudah 20 tahun lalu. Saat itu Rian sudah pergi merantau saat SMA karena di dusunnya waktu itu sekolah menengah atas memang belum didirikan di dusunnya tersebut, demi melanjutkan pendidikannya akhirnya Rian pun pergi merantau ke kota, disana Rian memutuskan untuk mencari kos an, Kos an Rian terletak tidak jauh dari sekolah nya SMA Pemuda. Kos an tempat tinggal Rian merupakan sebuah rumah yang di sewakan sehingga di dalam satu rumah tersebut dibagi-bagi menjadi kamar-kamar. Rian mendapatkan kamar paling depan.
Sewaktu itu Rian lagi menuju sekolahnya dengan berajalan kaki berhubung sekolahnya dengan kosan tempat Rian tidak jauh, jadi sehari-hari Rian pergi kesekolah dengan berjalan kaki. Pukul 06.15 rian biasanya sudah pergi kesekolah, 1 bulan pertama Rian tetap tenang -tenang saja, menjalani harinya dengan aman. Tetapi ketika memasuki bulan kedua Rian mengalami demam tinggi, walaupun Rian sakit ia tidak memberitahukan kepada orang tuanya, dengan alasan tidak mau membuat mereka khawatir pikirnya satu atau dua hari lagi ia juga pasti sembuh, tapi perkiraan Rian meleset jauh, sampai seminggu pun suhunya tak kunjung turun. Akhirnya ia memberi tahu perihalnya tentang demam Rian, orang tua Rian langsung pergi menjemput Rian dan membawannya pulang, Saat itu kehidupan ekonomi keluarga Rian sangat pas- pasan sehingga ia hanya bisa di bawa ke puskesmas itu pun di sana ia hanya menerima pengobatan sekedar disuntik, awalnya sesudah disuntik suhu tubuh Rian mulai berangsur turun tapi setelah dua hari disuntik, suhu tubuhnya kembali naik lagi. Begitu terus, Rian disuntik dan setelah itu panas lagi sampai sudah tiga minggu lamanya ia demam. Rambut-rambut Rian mulai rontok tubuhnya sudah terlihat sangat kurus, dan tubuh nya terasa sangat berat jika harus berdiri, orang – orang yang melihat Rian sangat prihatin dengan kondisi Rian, bahkan ada yang mengatakan Rian sudah layaknya seperti Tuyul, badan kurus dan rambut yang perlahan mulai habis. Soal sekolah Rian, Rian pun belum tahu bagaimana, mungkin pihak sekolah saat itu sudah mecari- cari Rian apakah ia pindah atau bagaimana, entahlah.
Akhirnya orang tua Rian membawa Rian pergi ke orang pintar, sebenarnya orang tua Rian tidak percaya pada hal – hal seperti itu tapi banyak orang yang menyuruh orang tua Rian agar Rian di bawa saja dengan orang pintar, hari seninnya pun Rian langsung di bawa ke orang pintar. Ntah apa yang dibacakan oleh orang pintar tersebut, tapi setelah mengatakan kalimat – kalimat yang tidak di ketahui itu, ia mengatakan kepada orang tua Rian bahwa Rian diganggu oleh dua orang wanita yang menempati kamar kos an Rian di kota. Ia juga menanyakan apakah Rian pernah bermimpi sesuatu sebelum ia terkena demam? Saat itu Rian hanya menjawab dengan gelengan, stelah dari sana Rian langsung bermimpi ada sekitar 40 orang yang menduduki tubuhnya dan perlahan –lahan orang – orang tersebut pergi meninggalkan tubuh Rian . Terhitung tiga hari setelah Rian pergi ke orang pintar, suhu tubuh Rian mulai mereda dan mulai sehat kembali. Rian pun kembali pergi ke kota lagi, sewaktu Rian kembali kesekolah banyak sekali pertanyaan terlontar kepadanya baik dari temanya, ataupun guru – gurunya, kemana saja ia selama ini? Apa yang dilakukannya stelah sebulan lebih menghilang? Bahkan guru – guru memanggilnya dan berkata ia masih ingin sekolah disini lagi atau tidak? Mendengar pertanyaan dari guru, Rian hanya bisa menjelaskannya kepada guru tersebut terlepas dari percaya atau tidak.
Rian masih tinggal di kos an dia dulunya, setelah dua hari disana Rian menanyakan prihal tentang kamarnya, awalnya sang ibu kos mengatakan tidak ada apa-apa di kamar kos tersebut namu Rian terus menuntut jawaban dari bu kosnya, akhirnya ibu kos rian memberitahu kepada Rian bahwa kamar Rian dulunya adalah tempat sumur, tepat di bawah kasur Rian disana adalh sumur. Kenapa kamar Rian bisa menjadi tempat sumur? Dulunya rumah tersebut belum ada kamar tempat Rian mengekos, tapi dua tahun belakangan ini kamar tersebut baru dibuat dan sumur yang ada disana di timbun dan dibuat sumur baru lagi. Mungkin karena itu kata ibu kos, setelah diceritakan hal tersebut Rian langsung teringat mimpinya sebelum demam 1 bulan yang lalu, ia bermimpi melihat dua sosok perempuan yang cantik yang berbicara kepada Rian kedua sosok perempuan tersebut duduk di jendela kos an Rian tapi hanya satu yang berbicara, sosok perempuan yang satunya lagi membelakangi Rian dan hanya menampakan rambut panjang yang terurai. Perempua yang mengahadap ke Rian berkata jika mereka bisa menghilang, dan mereka menghilang setelah berkata demikian. Semenjak saat itu lah Rian mengalami demamnya itu.
****
Rian teringat akan cerita itu dulunya, sekarang ia takut jika ananknya mengalami hal yang sama dengannya, Rian tidak ingin anak semata wayang nya tersebut mengalami hal tersebut karena dia sendiri tahu bagaimana rasanya mengalami skit yang seperti itu.
Rian pun membicarakn hal tersebut kepada istrinya ia mengajak istrinya agar mereka membawa anaknya ke orang pintar “Ka bagaimana kalau kita coba bawa Kinan ke orang pintar, aku tahu orang pintar di dekat sini?” mendengar itu siska mengerutkan keningnya tidak mengerti “Mas kamu percaya akn hal – hal seperti itu, zaman sekarang sudah tidak ada lagi hal seperti itu Mas” “Aku juga nggak yakin, tapi apa salahnya kita coba ke sana dulu, siapa tahu berhasil” Siska berpikir lama dan akhirnya ia mengatakan “baik Mas ayo kita coba, besok kita bawa Kinan ke sana tapi jika orang pintar tersebut meminta hal yang macam – macam kita langsung berhenti, setuju” “baik, besok kita akan bawa Kinan ke sana”
            Besok Siangnya Rian dan Siska langsung membawa Kinan ke sana. Dan orang pintar tersebut tidak meminta sesuatu yang aneh – aneh. Dan yang mengejutkan lagi prasangka Rian ternyata benar orang pintar tersebut menanyakan kepada Rian apakh dulunya Rian pernah mengalami hal seperti ini jugta atau tidak, Rian menjawab iya, orang pintar tersebut berkata kalau anaknya Kinan mengalami hal yang sama dengan Rian, dua sosok wanita itu tidak menghilang begiitu saja, selama ini mereka masih terus mengikuti Rian, mereka berkeliaran di rumah tempat tinggal Rian sekarang menunggu anak Rian hingga ia mulai remaja, Rian bergidik mendengar itu, tk berbeda dengan Siska, ia mulai merasa bulu kuduknya merinding dan mengeratkan pegangannya pada tangan Rian. Orang pintar tersebut mengatakan jika Kinan ingin sembuh dan rumah mereka aman kembali, maka mereka harus melakukan beberapa persyaratan dan ritual. Mendengar itu rian memtuskan untuk berunding dahulu dengan istrinya dan jika mereka telah mengambil keputusan akan mereka beritahu secepatnya ke pada orang pintar tersebut.
***
“Mas aku takut dengan ucapan orang pintar tersebut” “sudahlah ka nggak usah mikirin hal yang macam – macam seperti yang ia katakan” “Tapi mas...” “udah nggak ada apa – apa kok di rumah kita, di sini aman udah tenang aja ya, “Mas dengar aku dulu, bagaimana jika dia benar, kalau dia salah kenapa sekarang Kinan masih terus demam nggak sembuh- sembuh, sungguh aku benar- benar taku mas” Air mata Siska hampir terjatuh, melihat itu Rian langsung memeluk istrinya, berusaha menenangkan Siska, “Iya iya besok kita ke sana lagi, udah kamu nggak usah taku lagi” ucap Rian sambil mengelus punggung siska, Siska mengangguk menjawab perkataan Rian.
            Esoknya mereka kembali lagi ke tempat orang pintar tersebut dan setuju dengan syarat dan ritual yang harus dilakukan. Dua hari setelah itu Rian dan Siska langsung melaksanakannya, dan seminggu kemudian Suhu tubuh Kinan anaknya, mulai turun dan mulai kembali normal. Siska melihat Kinan mulai membaik tak henti – hentinya mengucapkan syukur. “sayang mama sangat senang kamu sudah mulai baikan, kamu lagi ingin apa sekarang sayang” mendengar kata sang ibu Kinan tersenyum dan berkata “Mama aku nggak ingin apa – apa kok, aku Cuma ingin mama temanin aku di sini aja kok ma” dan dengan senang hati Siska langsung menemani anaknya itu sampai ia tertidur kembali. Ketika tertidur Kinan bermimpi melihat sesosok perempuan cantik yang selalu hadir dalam mimipi Kinan selama ini, tapi Kinan tidak pernah berbicara tentang mimpinya itu kepada orang tuanya, mimpi tersebut hanya ia simpan sendiri,  sesosok perempuan cantik yang selalu mengajak Kinan bermain setiap kali ia bermimpi dalam tidurnya, orang yang selalu menghibur Kinan. Mimpinya malam ini, perempuan itu terus mengandeng tangan Kinan dan mengajak ia pergi, “Kinan ayo kita pergi bermain di tempat lain, tempat bermain kita yang selama ini sudah tidak aman lagi, disana ada seorang kakak yang akan bermain dengan mu juga nantinya” uajr perempuan tersebut, Kinan hanya diam mendengar itu, ia ingin ikut tapi hatinya gelisah, teringat terus akan orang tuanya, ia merasa takut jika ia nantinya akan sulit untuk bertemu lagi dengan orang tuanya, “nggak, Kinan nggak mau, nanti dicariin sama mama, kalu kita pergi ke tempat lain” ujar Kinan dan sambil berusaha melepaskan kedua tangannya dari genggaman perempuan itu. Melihat itu perempuan cantik tersebut menatap Kinan dengan tatapan marah dan tidak suka, cengkramannya di pergelangan tangan Kinan semakin menguat, Kinan mulai meringis karena sakitnya cengkraman wanita itu, ia semakin memberontak berusaha melepaskan tangannya, mendengar suara Kinan yang semakin mengeras wanita itu mulai menyeret Kinan paksa, membawa Kinan pergi bersamanya. Segala cara mulai Kinan lakukan agar bisa terlepas dari perempuan itu ketika tangannya mulai terlepas perempuan itu berbalik menatap Kinan, matanya memancarkan amarah yang sangat besar. Kuku perempuan itu mulai memanjang, matanya seperti ingin mencuat keluar, mukanya mulai berubah seperti wajah yang membusuk dan dilumuri darah, perutnya perlahan bolong digrogoti ulat ulat di dalamnya. Kinan memekik melihat itu, sekarang ia benar – benar takut dengan apa yang di lihatnya, ia berlari kencang menjauhi perempuan itu, tapi setiap kali ia menengok ke belakang perempuan itu selalu berhasil menyusulnya, cukup lama Kinan berlari dan perempuan itu mulai bisa menggapai pundak Kinan dari belakang ketika kukunya sedikt lagi sampai di pundak Kinan, Kinan terbangu dan langsung menangis memanggil ibunya, mendengar suara tangisan Kinan Siska langsung pergi ke kamar anaknya dan memeluknya, “Ma Kinan mimpi buruk ma, Kinan takut” ujar Kinan di dalam pelukan Siska “Udah tenang sayang mama di sini kok” ucap Siska sambil mengelus kepala anaknya, setelah tangisan Kinan mulai menghilang, barulah Siska bertanya “sayang kamu mimpi apa, kok sampai ketakutan banget kayak gjni”
“Ma perempuan cantik itu ma perempuan yang selalu ada dimimpi aku berubah menjadi menyeramkan, dia mengajakku pergi, tapi aku menolak, ia terus memaksaku, dan akhirnya dia marah dan menujukkan sosok aslinya, Kinan takut ma, Kinan takut”
“perempuan” Siska mengerutkan keningnya tidak mengerti “iya perempuan, perempuan yang selama ini selalu hadir di mimpi Kinan, pasti selalu ada seorang perempuan yang menemani Kinan, dia sering mengajak Kinan bermain, tapi tadi ia mengajak Kinan bermain ke tempat lain, katanya tempat yang selama ini kami jadikan tempat bermain sudah tidak aman” setelah mendengar penjelsan dari Kinan Siska langsung teringat dua orang perempuan yang di katakan oleh orang pintar kemarin, “udah Kina nggak usah takut lagi ya, Mama akan temani Kinan tidur” ucap Siska sambil mengelus kepala Kinan “Janji ya Ma temenin Kinan di sini jangan pergi, Kinan benar – benar takut Ma”
“ Iya sayang, sekarang Kinan bisa tidur lagi” Kinan langsung memluk ibunya dan perlahan matanya mulia terpejam kembali. Siska masih terus memikirkan cerita Kinan tadi, ‘berarti semua yang dikatakan orang itu benar?’ pikirnya, lelah memikirkan hal itu terus Siska pun ikut tertidur juga.
Esok paginya Siska langsung menceritakannya kepada Rian, Siska mengajak Rian agar mereka menemui orang pintar tersebut lagi, “Mas aku benar – benar takut sekarang, aku takut kalau perempuan itu akan menganggu Kinan lebih dari ini, secpepatnya kita harus pergi lagi ke tempat orang pintar itu Mas”
“ Tapi Ka, seharusnya kita tidak percaya akan hal – hal seperti itu”
 “Mas sudah banyak bukti, kamu sendiri juga pernah mengalami hal seperti itukan kamu masih nggak percaya, dan sekarang setelah kita bawa Kinan ke orang pintar, Kinan udah nggak demam lagi kan. Apa kamu masih nggak percaya?” sebenarnya Rian sependapat dengan istrinya tetapi, akalnya berkata jika mereka telah berbuat hal yang melenceng dari agama, Rian bingung dengan keadaan nya saat ini.
****
            Tapi akhirnya Rian memutuskan untuk pergi kembali ke orang pintar, mengikuti saran dari istrinya. Sesampainya di sana ia langsung meneceritakan perihal tentang mimpi Kinan, orang pintar tersebut menyuruh mereka untuk menaburkan garam dan air dari depan samapi ke belakang rumahnya. Setelah menabirkan garam dan air tesebut Siska dan Rian sering melihat sosok perempuan yang berkeliaran di rumahnya, dan semakin hari semakin sering pula perempuan itu menampakkan sosoknya kepada Rian dan Siska, tapi tidak bagi Kinan ia tidak melihat sosok itu. Stelah tiga hari kemudian sososk permepuan itu tidak terlihat lagi akan keberadaanya di rumah mereka, dan Kinan sudah sehat kembali.
Keadaan rumah Rian sudah tidak ada hal yang aneh – aneh lagi. Mereka mulai hidup dengan aman anaknya Kinan tidak lagi bermimpi yang aneh – aneh, ataupun bermimpi di datangi oleh perempuan yang selama ini selalu hadir di mimpinya.
Suatu hari sepupu perempuan Kinan Gita dari luar kota berkunjung ke rumahnya untuk menginap beberapa hari, karena ingin berlibur. Ia dan Kinan tidur berdua di kamar Kinan. Sampai hari ketiga Gita bermimpi di datangi oleh sesosok perempuan cantik yang mengajaknya bermain.....

END

Komentar