Cerpen

Setitik Cahaya yang Muncul

Aku menoleh ke sekitarku tidak ada pencahayaan diruang ini tempat ini begitu gelap, begitu sunyi, dan begitu berdebu. Beribu pertanyaan yang terlintas di kepalaku, kenapa aku bisa di sini, siapa yang membawaku ke sini, sudah berapa lama aku disini? Ketika aku mencoba mengingat hal itu aku tidak menemukan setitik pencahayaan dari pertanyaanku itu, aku tidak ingat sama sekali, seperti tidak punya ingatan tentang hidupku sebelumnya, kecuali yang mampu aku ingat ialah namaku sendiri  Alice Carlson.
“kreek” bunyi pintu terbuka dan menampakkan sedikit cahaya, bahkan cahaya yang masuk keruangan ini pun sangat lah redup. Ketika pintu terbuka sempurna aku melihat sileut tubuh seseorang dan dari bentuk siluet nya bisa dipastikan dia seorang laki-laki. Bahkan ketika dia masuk pun tak sepatah katapun ia ucapkan, ia hanya meletakkan sedikit makanan di dalam piring, segelas air dan lilin beserta korek api agar aku bisa makan dengan pencahayaan nantinya, hampir setiap hari lelaki itu melakukan hal itu, walaupun setiap hari aku tidak mengenalnya bagaimana tidak ketika masuk memberikan makanan aku hanya bisa melihat siluetnya wajahnya tidak terlihat sedikit pun dan soal penvahayaan jika lilin itu habis maka aku kembali ke gelapannya tempat ini, disini begitu dingin rasanya aku sudah tidak tahan  jika harus terus mendekam lagi di tempat ini, bahkan aku berdoa kepada tuhan agar ia mengambilku, aku begitu tersiksa, aku tidak punya lagi tujuan hidup jika harus terus disini.
            ****
Mata alice hampir terpejam ketika seseorang membuka pintu ruangan yang seperti penjara ini, orang itu memanggil namanya “Alice” ujar pria itu, suara bassnya terdengar oleh telinga Alice bisa dipastikan yang memanggilnya ialah seorang pria, seketika itu mata Alice langsung terbuka lagi, ia melihat cahaya dari pintu tapi sekarang begitu terang, tidak seperti selama ini hanya cahaya redup, Alice menyipitkan matanya karena begitu silau, ‘sudah berapa lama aku tidak melihat cahaya?’ batin Alice. “Alice kau bisa mendengarku, jika iya kemarilah Alice kita harus cepat” ujar pria itu dengan suara yang kecil namun panik, Alice berjalan perlahan menuju pria itu, ketika ia sudah keluar dari ruangan yang ia anggap seperti penjara pribadinya tersebut, ia masih harus harus menyesuaikan penglihatannya, beberapa kali ia menggosok matanya cukup lama ia melakukan hal itu, dan pria itu dengan sabarnya menunggu Alice menyesuaikan penglihatannya. Setelah ia merasa yakin jika Alice sudah bisa menyesuaikan matanya ia langsung mengenggam kuat tangan Alice, dan berjalan mengendap-ngendap keluar dari gedung besar ini seperti seorang pencuri. Alice yang dibawa lari hanya diam saja, ia tidak bertanya sedikit pun dan terus mengikuti pria ini. Sampai ketika mereka merasa sudah cukup jauh dari gedung itu barulah Alice bertanya
“Maaf, apa aku boleh tau kau ini siapa?” pria itu menolehkan wajahnya menatap Alice
 “kau tidak mengingat ku?” Alice menggeleng
“Sama sekali” Alice mengangguk
“Sedikit pun apa kau tidak ingat?” Alice mengangguk kembali
“Heh, Robbin sepertinya obat itu benar-benar bekerja dengan baik” ujar pria itu menggumam, dan hanya bisa didengar olehnya sendiri
“Baiklah kalau begitu ayo kita mulai semuanya dari awal kembali, perkenalkan namaku Peter, Peter Clark” kata pria bernama peter itu sambil menjulurkan tangannya
“Aku Alice, Alice Carlson” kata Alice sambil menyambut tangan Peter
“Dan apa maksudmu untuk memulai semuanya dari awal?”
“Kau benar-benar tidak ingat sedikit pun” Alice menghembuskan nafasnya, seolah-olah dari sorot matanya ia berkata harus berapa kali lagi pria ini menanyakan hal itu
“Maaf, tapi itu benar-benar mengaggetkanku, dan abaikan saja perkataanku untuk memulai semuanya dari awal tadi” Alice mengerutkan keningnya
“Lalu bagaimana kau bisa tahu namaku?, apa sebelumnya kita saling mengenal?”
“Ya, aku mengenalmu, kenapa aku bisa tahu karena kita adalah Teman” Alice semaikin mengerutkan keningnya, ia semakin bingung dengan ucapan Peter, jika mereka berteman berarti Alice punya kehidupan sebelum di penjara pribadinya itu, berarti sebelumnya ia tidak tinggal di penjara.
“Apa kau tahu tentang kehidupanku sebelum aku diruangan itu?” kata Alice mengintimidasi
“Tidak aku tidak tahu”
“Kau berbohong”
“Tidak Alice, sungguh aku benar-benar tidak tahu” Alice masih tidak percaya
“Apa susahnya untuk memberitahuku tentang kehidupanku sendiri?, ayolah itu merupakan hakku untuk mengetahuinya” Peter tersenyum, ternyata temannya ini tidak sepenuhnya menghilang, sifat memaksanya masih tetap melekat kuat
“Baiklah aku harap kau tidak menyesal, setelah aku menceritakannya, berjanjilah kepadaku untuk tidak terpuruk lagi dan mulailah menjalani semuanya dari awal” tanpa pikir panjang Alice langsung menganggukan kepalanya
****
Setelah mendengarkan cerita Peter tentang hidupnya sendiri, ternyata ia tidak bisa menepati janjinya kepada Peter beberapa waktu lalu. Ia kembali menganggap dirinya bencana di dunia ini dan membenci dirinya lagi. Peter menceritakan jika kehidupan Alice dulunya, ketika Peter menceritakan itu semua perlahan-lahan ingatan Alice kembali lagi, ia ingat bagaimana ia menghancurkan kehidupan keluarganya karena kelakuan bodohnya, saat itu Alice masih kuliah semester 3 sebetulnya ia bukanlah anak yang nakal, walaupun kedua orang tuanya sering mengalami pertengkaran hebat Alice tetap tidak berbuat ulah, sampai ketika Alice mendengar jika mereka ingin bercerai, mereka merasa sudah tidak bisa mempertahankan lagi pernikahan mereka. Alice marah dengan kedua orangtuanya, ia kecewa  dan tanpa pikir panjang ia mulai mengikuti ajakan temannya yang sudah lama ini, menjerumuskan diri ke dunia yang membawa nya ke kegelapan itu. Alice tidak pulang hari itu, ia melihat handphonenya tersenyum masam ‘bahkan kedua orangtuaku tidak menanyakan kebaradaanku saat ini’ batinnya ketika masih di klub malam. Paginya ia pulang kerumah dengan kondisi yang berantakan dan mabuk, ibunya yang melihat itu langsung panik melihat Alice, putrinya yang selama ini selalu menjadi putri yang penurut dan tidak berulah, tapi hari itu berubah menjadi putri yang tidak di kenalinya. Semenjak hal itu jika kedua orang tuanya mulai berkelahi Alice kembali melakukan kegiatan pulang paginya, adik lelakinya yang masih menginjak kelas sekolah menengah pertama pun mulai sering menangis sendiri di kamarnya, keluarganya semakin kacau hingga surat perceraian itu benar-benar di laksanakan. Alice buta akan resikonya nanti ia merencanakan untuk membakar rumahnya sendiri agar mereka bisa bahagia di kehidupan selanjutnya pikirnya, Alice lelah dengan kehidupannya sekarang ini , ia melakukan kebakaran yang sudah ia rencanakan, entah bagaimana ia mendapatkan cara itu dulu, saat itu tiba-tiba saja ia mendapatkan ide agar bisa membakar rumahnya sendiri. Setelah merasa ruamahnya akan terbakar dalam hitungan menit lagi, Alice pergi menemui adik lelakinya satu-satunya keluarga yang masih ia sayangi saat itu, banyak yang adik Alice ceritakan ke Alice, adiknya itu merasa jika ingin mati saja jika melihat keluarganya yang seperti ini Alice tersenyum kecut ‘Sabar adikku sayang sebentar lagi kita akan berada di kehidupan yang bahagia’ batin Alice saat adiknya menceritakan itu. Setelah adikknya menceritakan banyak hal tentang perasaannya selama ini, Alice tersadar ia sangat menyayangi adikknya ini, kenapa ia merasa ia sendiri yang menderita selama ini dan sebenarnya, kalau Alice ingat-ingat lagi kedua orang tuanya sangat perhatian kepada Alice dan adikknya walaupun mereka sering bertengkar dan tidak menunjukkannya secara terang-terangan. Setelah menyadari hal itu Alice langsung bertindak cepat untuk menghentikan rencana gilanya itu tapi dia terlambat, rumah itu hancur keluarganya meninggal dan sialnya lagi hanya dia sendiri yang selamat. Alice mulai gila ia lebih sering menangis dan menyakiti dirinya sendiri, pikirnya tidak ada lagi orang yang menyayanginya, tapi ia tidak tahu masih ada orang yang sayang kepadanya yaitu teman kecilnya Peter Clark, dan Alice lebih suka memanggilnya dengan nama Lark dulunya, tapi lagi-lagi Alice buta dengan kasih sayang orang lain terhadapnya. Pamannya Robin, adik ibunya kecewa dengan Alice, ia mengetahui jika Alice lah yang merencanakan kebakaran itu, ia tidak melaporkan Alice ke polisi. Ia ingin menghukum Alice sendiri. Alice yang tahu rencana pamannya pun dengan senang hati ia menyerahkan diri kepada pamannya. Ketika itu Lark terlambat menghalangi rencana paman Alice, Lark datang ketika Alice sudah tidak sadarkan diri dan dikurung di ruangan gelap itu. Ia marah kepada Robbin bagaimana bisa ia tega melakukan hal itu kepada keponakkannya sendiri, Robbin menjelaskannya agar Lark bisa bersabar menunggu Alice, “Peter!! Biarkan Alice seperti itu dulu, itu tidak seberapa kau tahu, nanti jika aku sudah merasa cukup, akan ku bebaskan Alice aku janji itu” Lark yang mendengar itupun dengan berat hati menyetujui ucapan Robbin.
****
Entah apa yang pamannya kasih ke Alice hingga Alice lupa akan ingatannya. Tapi Lark membebaskannya sekarang, Lark merasa jika Alice sudah cukup mendapatkan itu semua, dan sekarang Lark membuat Alice  mengingat semuanya lagi. Setelah Alice ingat semuanya ia menangis kencang, terus menyalahkan Lark,
“Kenapa kenapa kau mengeluarkan aku dari sana, aku pantas mendapatkan itu Lark” Alice masih terus saja menangis
“Alice kau sudah berjanji kepadaku untuk tidak meyalahkan dirimu terus tadi, dan mulailah hidupdari awal lagi Alice bersamaku” ucap Lark dengan lembut dan memeluk Alice.
Cukup lama untuk menenangkan Alice, Alice mengajak Lark untuk menemaninya pergi ke makan Ibu, Ayah, dan Adiknya  Bill Carlson. ‘Ayah, Ibu dan Bill maafkan aku, aku benar-benar bodoh, aku berharap kalian bahagia sekarang bahagia berada di surga sana’ ucap Alice dalam hati dan lagi-lagi ia meneteskan air matanya ketika di pemakaman, tapi tidak sederas tadi. Setelah dari pemakaman ia ingin menemui pamannya Robbin, Robbin terkejut ketika ia melihat Alice berada dirumahnya sekarang, dan bukan berada di ruangan gelap itu. Ketika mereka di sana pamannya sangat marah kepada Lark karena ia membebaskan Alice,
“Paman maafkan aku aku tahu jika aku bodoh, aku sungguh minta maaf aku menyesalinya, aku memang pantas dihukum tapi, aku mohon kepadamu kali ini tolong bairkan aku untuk hidup kembali aku ingin memulai hidupku lagi” ujar Alice terus menundukkan kepalanya, dengan air mata yang terus menetes “Aku mohon kepadamu” lanjutnya
“Apakah kau sadar yang kau lakukan dulu, kau puas sekarang?”
“Robbin berhentilah menyalahkannya dia sudah menyesalinya, dan berilah Alice kesempatan lagi untuk melanjutkan hidupnya” kata Lark membela Alice
Robbin menghembuskan nafasnya kasar, dan mengacak rambutnya frustasi “Baiklah Alice aku harap di kehidupanmu selanjutnya kau tidak berbuat tindakan yang bodoh lagi”
Alice mengangguk dan terus meminta maaf dan berterimakasih
****
            “Lark aku tidak tahu apa yang harus lakukan sekarang”
            “Alice, mulailah hidup denganku, ayo kita bersama-sama memulai semua ini dari awal kembali, bersama-sama”
“Kau  masih mau berteman dengan orang bodoh sepertiku?”
“Alice sudah berapa kali aku katakan kepadamu berhentilah beranggapan seperti itu, kau tidak bodoh kau tahu itu” ujar Lark sambil menangkupkan tangannya ke wajah Alice.
Alice melihat lurus kemata Lark dan mengangguk, lalu Lark memeluk Alice. Alicenya telah kembali ucap Lark dalam hati, “Alice berjanjilah kepadaku jika kau tidak akan meninggalkanku dan terus bersamaku” kata Lark kepada Alice, Alice mengangguk ‘Terimakasih Lark, aku akan berusaha untuk tidak terjebak kedua kalinya di lubang yang sama’ kata Alice dalam hati dan ia berdoa agar Tuhan dapat memaafkan sedikit dosanya, walaupun ia tahu dosanya sudah tidak bisa termaafkan. Dan untuk Ibu, Ayah dan Bill semoga kalian bahagia disana.
****
END

Komentar